Mbah sareman adalah logat jawa dari Mbah sayyid abdurrahman.
Beliau hidup sekitar tahun 40 an di desa soditan kecamatan lasem kabupaten
rembang. Beliau termasuk ulama yang waskito dikenal dengan kewaliannya dan
kesufiannya,hidup dengan cara sederhana dan seadanya. Salah satu kisah yang
sampai sekarang diceritakan orang tua kepada anaknya di soditan adalah cerita
bagaimana mbah sareman ngapokke seorang china juragan ciu. Begini:
Alkisah pada pagi hari setiap seminggu, mbah sareman selalu
pergi ke alas kajar untuk mencari kayu bakar dan pulang pada siang harinya.
Mbah sareman selalu menempuh perjalanan yang kira-kira berjarak 20 kilometer
ini dengan berjalan kaki, bukan karena tidak ada tumpangan tapi inilah bentuk
laku. Perjalanan 20 kilometer ini adalah perjalanan batin, bertemu dan menyapa
banyak orang dengan banyak keadaan. Setelah merasa cukup mengumpulkan kayu
bakar mbah sareman berniat hendak pulang. Kayu dipikul kaki
dilangkahkan.Seperti biasanya dalam perjalanan pulang mbah sareman terus saja
menyapa banyak orang, karena saking banyak orang yang mengenalnya.
Desa soditan terletak di peisir pantai utara jawa, udara
terik dan panas menyengat membentuk manusia soditan berperawakan keras. Meski
begitu orang-orang disini membumikan gotong royong, tolong menolong,tepo
seliro. Orang-orang tak kenal rasa curiga, siapa datang dengan baik maka ia
disambut dengan gembira.
Hari ini pun tidak beda dengan hari-hari yang lain, udara
terik dan panas menyengat. Mbah sareman sudah setengah perjalanan, keringatnya
bercucuran. Beliau beristirahat di pohon asam besar pinggir jalan tepat di
depan toko HIU milik china juragan Ciu. Juragan pemilik toko HIU ini adalah
juragan ciu terbesar di pesisir utara, distribusi ciu dari semarang sampai
tuban ia kuasai, produknya pun terkenal kualitas terbaik bahkan pemabuk semacam
wak basri dibuat kelimbungan dengan hanya meminum satu mangkok ciunya.
Pernah suatu hari juragan china ini membuat mabuk kusir
kadipaten yang terkenal alim, ia menipu kusir itu dengan memberikan ciu yang
dibilang air. Memang ciu produk Toko HIU ini kualitas nomor satu, bau pun tidak
malah terasa seperti air segar. Kusir itu pun mabuk dibuatnya, andok yang
dikendarainya nyongsop di pasar kulon menabraki segala yang ada dan mebuat para
pedagang geram dan gegerlah seisi pasar. Juragan ini memang suka usil dengan
orang jawa Islam “sampai mana wong jowo gak gelem ngombe ciuku, tak jajale
penggedene” ujarnya suatu hari di warung kopi depan klenteng Mak Cho”
Siang terus berjalan tanpa ampun, mbah sareman masih duduk
beristirahat dibawah pohon asam tepat depan Toko HIU. Dalam hati Juragan ini
ingin menipu mbah sareman, seperti yang ia lakukan kepada kusir kadipaten dulu.
‘siang mbah, dari alas siang-siang begini haiya”
“enggeh gan, dari cari kayu bakar buat masak”
“ haiya, mampir dulu ke tempat saya minum dulu biar segar”
“mboten gan, matur nuwun”
“haiya, loe orang ini ada air, minum dulu lumayan biar gak
kering tenggorokan”
Diminumlah bumbung dari juragan china itu, seteguk demi
seteguk tampak nikmat sekali. Tiba-tiba juragan china itu tertawa keras seakan
menang dari perang “ bwahahahaha haiya orang-orang jawa bodo-bodo, dikasih ciu
diminum saja katanya haram-haram”. Mbah
sareman berhenti minum dan menyerahkan bumbung itu kepada juragan china. “
terima kasih airnya segar sekali, saya akan melanjutkan perjalanan hari sudah
sore” ucap mbah sareman dengan tenang. “ bwahahaha air loe orang bilang, itu
ciu goblok” sahut juragan china dengan bangga. “ tidak juragan ini air segar,
kalo ini chiu pasti sudah saya tau dari baunya”. Mbah sareman tidak peduli,
beliau berjalan saja pulang. Sore tepat di titik penghabisannya, hari telah
selesai dan malam dihidupi dengan lolongan anjing kampung.
Subuh muput orang sekecamatan lasem geger, dari yang tua
sampai yang muda dari yang jawa sampai china semua lari terburu menuju
alun-alun depan masjid. “Juragan HIU mlebu islam juragan HIU mlebu islam”
teriak orang-orang. Yang lain juga berteriak “ pabrik ciunya bangkrut, semua
ciu di gudang semarang dan juwana berubah jadi air, dia bangkrut lalu masuk
islam”. Benar memang, semua ciu di pabrik dan gudang juragan china itu berubah
jadi air malam harinya, bergalon jumlahnya tidak terhitung. Ia masuk islam dan
bersumpah tidak akan meminum ciu, apalagi memproduksinya.
Mentari melangkah menempuh harinya, mbah sareman nampak di
ladang sebelah gubuknya, ndangir ketela yang sudah banyak rumputnya. Tidak ada
apa-apa, hari-hari berjalan seperti biasa.
Muhammad Akid A.H
Laki-laki penyuka puisi, beberapa prosa dan puisinya di muat
di media cetak dan online. Puisinya juga terkumpul di antologi Anak-Anak Kapak
bersama empat penyair muda. Tinggal di yogyakarta dan bergiat di komunitas
NgopiNyastro Yogyakarta.